Mengapa menggunakan nama KOPI PANDE?

Menurut WikiPedia; Pande atau Pandai Besi, adalah sebuah aktifitas kerja yang tujuan utamanya membuat alat-alat dari besi atau baja.

Pande atau Pandai Besi, membuat perkakas dari besi dan baja misalnya alat-alat bertani seperti: cangkul, arit, bendho, bapang, kapak, pisau maupun senjata-senjata. Seorang tukang besi secara tradisional biasanya bertempat di dekat pasar pasar umum atau pasar hewan, tempat berkumpulnya para petani di desa.

 

Lalu apa hubungannya dengan kopi? Memang tidak ada 🙂

 

Kami menggunakan nama PANDE tidak lain dan tidak bukan karena secara de facto kami memang lahir dan pernah tinggal di sebuah dusun yang bernama "Dusun Pandean", tepatnya di Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa.

 

Sesuai dengan sejarah, dusun kami ini dinamai dengan PANDEAN karena banyaknya industri tradisonal pembuatan alat-alat pertanian dari besi dan baja, atau yang lebih dikenal dengan nama PANDE. Warga Pandean yang kala itu mayoritas berprofesi sebagai Tukang Pande (pekerja pandai besi), tiap hari datang berkumpul dan bekerja di bengkel-bengkel pandai besi (atau yang lebih dikenal dengan nama "BESALEN" atau "SALEN").

 

Dalam pengerjaannya hampir seluruh hasil kerja yaitu berupa alat-alat pertanian dari besi dan baja ini dibuat dengan menggunakan alat-alat tempa tradisional dan dikerjakan dengan tangan. Sehingga hasilnya sangat kuat, unik, tahan lama dan artistik dibandingkan dengan alat-alat yang dibuat dengan mesin.

Namun sayang, industri pandai besi yang menjadi cici khas dusun Pandean ini sekarang pelan-pelan namun pasti mulai terkikis oleh jaman. Keberadaan besalen-nya satu persatu mulai hilang, ada yang ditutup karena tidak ada regenerasi, namun kebanyakan ditutup karena sudah tidak banyak lagi petani yang order alat-alat pertanian di pandai besi kami, karena pada umumnya petani sekarang lebih memilih untuk membeli alat-alat pertanian import yang dibuat dengan mesin yang harganya jauh lebih murah.

 

Mungkin saat ini hanya masih tersisa sekitar 5 besalen pandai besi di dusun kami. Inilah yang menjadi keprihatinan kami sebagai generasi muda, memikirkan bagaimana caranya agar tradisi Pandean tetap hidup dan akan terus dikenang oleh generasi muda mendatang. Jika identitas cikal bakal dari sebutan sebuah nama sudah tidak ada, bukankah itu sebuah keironisan yang luar biasa? Kelak anak cucu dusun Pandean mungkin sudah tidak akan  melihat lagi seperti apakah Salen Pande, tempat yang ikonik awal dari nama kampung mareka.

 

Saat ini memang kami baru sanggup untuk memakai nama PANDE sebagai brand kopi kami, yaitu KOPI PANDE. Namun kedepannya, kami berencana ingin menciptakan sebuah industri kreatif di dusun Pandean sehingga industri tradisional PANDE yang menjadi identitas dusun ini dapat tetap ada dan lestari.

 

Saat ini gagasan dan ide sudah ada untuk hal tersebut, hanya tinggal implementasi karena terbatasnya waktu dan SDM yang ada. Semoga.